Untuk saran dan kritik kirimkan via email ilhamsyah050@gmail.com atau sms ke 08561836482

Mesin pencari

Kamis, 10 Juli 2008

KONDAS HALUSINASI (JIWA)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Menurut Dr. Uton Muchtar Rafei, Direktur WHO wilayah tenggara, data survei kesehatan rumah tangga (SKRT) 1995 di Indonesia diperkirakan 264 dari 100 anggota rumah tangga yang menderita gangguan kesehatan jiwa. http : / www.dnet.net.id / kesehatan / berita sehat detail : dnet.id=2194, tanggal 12 September 2005.

Menurut Proff. Dr. Azrul Azwar MPH, DirJen Bina Kesehatan Masyarakat Depkes, World Health Organization (WHO) memperkirakan tidak kurang dari 450 juta penderita gangguan jiwa ditemukan didunia, bahkan berdasarkan data dari Studi World Bank di beberapa negara menunjukkan 8,1 % dari kesehatan global masyarakat (Global Burden Disease) disebabkan oleh masalah gangguan jiwa yang menunjukkan dampak lebih besar dari TBC (7,2 %), kanker (5,8 %), jantung (4,4 %) dan malaria (2,6 %). (www.kbi.gemari.or.id : 11 Januari 2001, diambil tanggal 2 September 2005)

Menurut Prof. Dr. Azrul Azwar, Mph, Dirjen Bina Kesehatan masyarakat Departemen Kesehatan mengatakan angka tersebut menunjukkan jumlah penderita gangguan jiwa dimasyarakat sangat tinggi, yaitu satu dari empat penduduk Indonesia menderita kelainan jiwa dari rasa cemas, depresi, stress, penyalah gunaan obat, kenakalan remaja sampai skizoprenia. (http : / www.dnet.net.id / kesehatan / berita sehat detail : dnet.id=2194) edisi 23 Agustus 2004.

Gangguan-gangguan tersebut menunjukkan seperti klien berbicara sendiri, mata melihat kekanan-kekiri, jalan mondar-mandir, sering tersenyum sendiri dan sering mendengar suara-suara. Sedangkan halusinasi adalah suatu keadaan dimana individu mengalami perubahan dalam jumlah atau pola dari stimulus yang mendekat (yang diprakarsai secara internal atau eksternal) disertai dengan suatu pengurangan, berlebih-lebihan, distorsi atau kelaianan berespon terhadap setiap stimulus. (Mary C. Townsend, 1998 : 156)

Dari hasil laporan periode bulan Juni – Juli 2005, pasien yang dirawat diruang Utari sebanyak 25 pasien. Dari data diruang Utari, Rumah Sakit Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor, pasien dengan gangguan jiwa halusinasi sebanyak 7 orang (28 %) menarik diri sebanyak 8 orang (32 %), harga diri rendah 4 orang (16%), perilakuk kekerasan 4 orang (16 %) waham sebanyak 2 orang (8%).

Agar perilaku kekerasan tidak terjadi pada klien halusinasi maka sangat dibutuhkan asuhan keperawatan yang berkesinambungan. Berdasarkan hal tersebut diatas maka penulis tertarik untuk membuat Karya Tulis Ilmiah dengan judul “Perubahan Sensori Persepsi Halusinasi Pendengaran di Ruang Utari Rumah Sakit Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor”.

Tujuan Penulisan

a. Tujuan Umum

Tujuan penulisan Karya Tulis Ilmiah ini adalah memberikan gambaran nyata tentang asuhan keperawatan pada klien dengan Perubahan sensori persepsi : halusinasi pendengaran di Ruang Utari RS Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor.

b. Tujuan Khusus :

a. pengkajian pada klien dengan perubahan sensori persepsi : halusinasi pendengaran.

b. diagnosa keperawatan pada dengan perubahan sensori persepsi : halusinasi pendengaran.

c. Perencanaan keperawatan pada klien dengan perubahan sensori persepsi : halusinasi pendengaran.

d. Pelaksanaan perawatan pada klien dengan perubahan sensori persepsi : halusinasi pendengaran.

e. evaluasi keperawatan pada klien dengan perubahan sensori persepsi : halusinasi pendengaran.

f. faktor penunjang dan penghambat pada klien yang mengalami perubahan sensori persepsi : halusinasi pendengaran.

g. Pemecahan masalah asuhan keperawatan pada klien yang mengalami perubahan sensori persepsi : halusinasi pendengaran.

h. Mendokumentasikan semua kegiatan keperawatan dalam bentuk narasi.

Metode Penulisan

Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini penulis menggunakan metode deskriptif, di mana penulis hanya memaparkan data yang sesungguhnya pada kasus. Untuk menggali data, teknik yang digunakan berbagai macam di antaranya adalah :

1. Wawancara : penulis mengadakan wawancara pada klien dan perawat diruang Utari

2. Observasi : penulis melakukan pengumpulan data yang dilakukan dengan pengamatan secara langsung terhadap perilaku klien sehari-hari

3. studi kepustakaan : penulis mempelajari sumber-sumber pemeriksaan fisik yang dilakukan secara bertahap.

4. data sekunder : penulis mengambil data dari status klien, catatan keperawatan untuk dianalisa sebagai data yang mendukung masalah klien.

Sistematika Penulisan

Dalam penyusunan Laporan Hasil Asuhan Keperawatan ini terdiri dari 5 Bab yang secara sistematis disusun menurut urutan sebagai berikut :

Bab I terdiri dari : pendahuluan yang meliputi latar belakang, tujuan penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan. Bab II terdiri dari : tinjauan teoritis yang meliputi konsep dasar dan konsep asuhan keperawatan perubahan sensori persepsi : halusinasi pendengaran. Bab III terdiri dari : tinjauan kasus yang meliputi gambaran kasus, diagnosa, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Bab IV terdiri dari : pembahasan. Bab V terdiri dari : kesimpulan dan saran.


BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Konsep dasar

1. Pengertian

Perubahan sensori persepsi adalah keadaan dimana individu atau kelompok mengalami atau beresiko mengalami suatu perubahan dalam jumlah, pola atau interpretasi stimulus yang datang. (Carpenito Lynda Juall, 2001 hal 370 ).

Halusinasi adalah suatu keadaan dimana individu mengalami perubahan dalam jumlah atau pola dari stimulus yang mendekat ( yang diprakarsai secara internal atau eksternal ) disertai dengan suatau pengurangan, berlebih-lebihan, distorsi atau kelainan berespon terhadap setiap stimulus. ( Mary C. towsend. alih bahasa Novy Helena C. Daulima, 1998 hal 156 ).

Halusinasi adalah persepsi sensorik yang keliru dan melibatkan panca indra dalam skizofrenia, halusinasi pendengaran merupakan halusinasi yang paling banyak terjadi ( Ann Isaacs alih bahasa Dean Praty Rahayu, 2005 hal 151 ).

2. Proses terjadinya Halusinasi

Proses informasi tergantung pada anatomi dan proses neurofisiologis otak dan juga pengalaman sebelumnya. Ini mencakup pengorganisasian dalam proses input sensori sampai dengan respon perilaku yang dihasilkan. Hal ini dapat dilihat pada proses penerimaan informasi di otak seperti dibawah ini.



5


Respon Koping Halusinasi(Stuart Laraia 1998, h. 408)




Semua stimulus atau rangsang baik dari dalam yaitu biokimia dan emosi serta dari luar, yaitu penglihatan, pendengaran, perabaan, pengecapan dan penghidu atau di interpretasikan. Hasil interpretasi di otak akan menimbulkan respons perilaku yaitu proses kognitif, persepsi, respon emosi, gerakan motorik, respon sosial.

Pada schizophrenia perkiraan teori menyatakan bahwa ada beberapa dopamin berlebihan lewat darah mezolimbik, dimana pada prefrontal (area di depan pusat motorik) mesokortikal terdapat aliran yang hipoaktif terdapat gangguan keseimbangan antara dopamin serotonin dan sistem neurotransmitter.

Dopamin di temukan di tiga bagian dari otak, yaitu :

- Pada tengah substansi nigramotor, mempengaruhi pergerakan koordinasinya.

- Pada bagian tengah otak, termasuk emosi dan daya ingat.

- Hipotalamik sambungan pituitary, tergantung pada respon emosional dan bentuk koping stress.

Memiliki 4 saluran yang paling besar di dalam otak, yaitu :

b. Mesokortikal

Mempersarafi lobus bagian frontal, berhubungan dengan wawasan ketetapan, kesadaran, penghambatan dan aktivitas kognitif tingkat tinggi. Gejala negatif yaitu halusinasi pendengaran, penglihatan. Sedikit berbicara, menutup diri, kurang motivasi, keterbelakangan, kelemahan kognitif dan kurang perhatian.

c. Mesolimbik

Mempersarafi sistem limbik, berhubungan dengan memori, penciuman dan sikap emosional.

d. Tuberoin Fundibular

Berasal dari hipotalamus dan proyeksi pada pituitary berhubungan dengan fungsi endokrin, rasa lapar, haus, metabolisme, kontrol tempoeratur dan seksual.

e. Nigrostriatal

Berasal dari substansi nigra dan berakhir pada bagian ekor nukleus, berhubungan dengan sistem motorik dan ekstrapiramidal serotonin pada dasarnya adalah untuk memediasi beberapa fungsi otak yang mana telah terimplikasi pada schizoprenia.

(Stuart and Laraia, 1998: 407-408, 417-418)


  1. Rentang Respon Neurobiologis (Stuart and Sundeen, 1998 : 302)

RENTANG RESPON NEUROBIOLOGIS




Respon Adaptif

Respon Maladaptif

Pikiran logis

Persepsi akurat

Emosi konsisten dengan pengalaman

Perilaku sesuai

Hubungan sosial

Pikiran kadang-kadang menyimpang

Ilusi

Reaksi emosional berlebihan atau kurang

Perilaku ganjil atau tak lazim

Menarik diri

Kelainan pikiran / delusi

Halusinasi

Ketidakmampuan untuk mengalami emosi

Ketidakaturan tingkah laku

Isolasi sosial

Dalam rentang respon neurobiologis mempunyai hubungan yang sangat jelas dengan proses masuknya informasi ke dalam otak. Dimana proses informasi di otak merupakan proses pengetahuan dan aktivitas motorik yang secara sadar memastikan perjalanan proses dari hal ketepatan menyimpan informasi dan mencari keterangan untuk mendapatkan informasi kembali.

Klien dengan gangguan orientasi realita mengalami perubahan perilaku yang berhubungan dengan kognisi, persepsi, emosi, gerakan dan perilaku, hubungan. Respon maladaptif dari kelima perubahan tersebut adalah :

a. Perilaku yang berhubungan dengan kognisi.

Perilaku yang berhubungan dengan masalah-masalah proses informasi yang berkaitan dengan skizofrenia sering disebut sebagai defisit kognisi. Perilaku ini termasuk masalah-masalah semua aspek ingatan, perhatian, bentuk, dan jumlah ucapan (kelainan pikiran formal), pengambilan keputusan, dan delusi (bentuk dan isi pikiran).

b. Perilaku yang berhubungan dengan persepsi

Persepsi mengacu pada identikasi dan interpretasi awal dari suatu stimulus berdasarkan informasi yang diterima melalui panca indera.

c. Perilaku yang berhubungan dengan emosi

Emosi dapat diekspresikan secara berlebihan (hiperekspresi) atau kurang (hipoekspresi) dengan sikap yang tidak sesuai. Individu yang menderita skozofrenia biasanya mempunyai masalah yang berhubungan dengan hipoekspresi. Pasien ini juga sering mengalami emosi yang berkaitan dengan kesulitan yang disebabkan oleh penyakit mereka seperti frustasi dalam mengatasi rintangan untuk mencapai tujuan personalnya.

d. Perilaku yang berkaitan dengan gerakan dan perilaku

Respons neurobiologik maladaptif menimbulkan perilaku yang aneh, tidak enak dipandang, membingungkan, kesukaran mengelola dan tampak tidak mengenal dengan orang lain.

e. Perilaku yang berkaitan dengan hubungan

Sosialisasi adalah kemampuan untuk menjalin hubungan kerja sama dan saling tergantung dengan orang lain. Perilaku yang terkait dengan hubungan sebagai akibat dari respons neurobiologik yang maladaptif

(Stuart and Sundeen, 1998 hal. 301-305)

  1. Tingkat Intensitas Halusinasi ( Sunaryo, Psikologi untuk keperawatan, 2004 hal. 95 )

a. Tahap I yaitu Menenangkan ( ansietas tingkat sedang )

Secara umum halusinasi bersifat menyenangkan : Karakteristik : Orang yang berhalusinasi mengalami keadaan emosi seperti ansietas, kesepian, merasa bersalah dan takut serta mencoba untuk memusatkan pada penenangan pikiran untuk mengurangi ansietas. Individu mengetahui bahwa pikiran dan sensori yang dialami tersebut dapat dikendalikan jika ansietasnya bisa diatasi. Perilaku pasien : Menyeringai atau tertawa yang tidak sesuai, menggerakkan bibirnya tanpa menimbulkan suara, gerakan mata yang cepat, respon verbal yang lamban, diam dan dipenuhi oleh sesuatu yang mengasyikkan.

b. Tahap II yaitu Menyalahkan ( ansietas tingkat sedang )

Secara umum halusinasi menjijikkan : Karakteristik : Pengalaman sensori bersifat menjijikkan dan menakutkan, orang yang berhalusinasi mulai merasa kehilangan kendali dan mungkin berusaha untuk menjauhkan dirinya dari sumber yang dipersepsikan, individu mungkin merasa malu karena pengalaman sensorinya dan menarik diri dari orang lain. Perilaku pasien : Peningkatan sistem saraf otonom yang menunjukkan ansietas misalnya peningkatan nadi, pernapasan dan TD, Penyempitan kemampuan konsentrasi, dipenuhi dengan pengalaman sensori dan mungkin kehilangan kemampuan untuk membedakan antara halusinasi dengan realitas.

c. Tahap III yaitu Mengendalikan ( ansietas tingkat berat )

Pengalaman sensori menjadi penguasa : Karakteristik : Orang yang berhalusinasi menyerah untuk melawan pengalaman halusinasi dan membiarkan halusinasi menguasai dirinya, isi halusinasi dapat berupa permohonan, individu mungkin mengalami kesepian jika pengalaman sensori tersebut berakhir. Perilaku pasien : Lebih cenderung mengikuti petunjuk yang diberikan oleh halusinasinya daripada menolaknya, kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain, rentang perhatian hanya beberapa menit atau detik.

d. Tahap IV yaitu Menaklukkan ( ansietas tingkat panik )

Secara umum halusinasi menjadi lebih rumit dan saling terkait dengan delusi: Karakteristik : Pengalaman sensori mungkin menakutkan jika individu tidak mengikuti perintah, halusinasi bisa berlangsung dalam beberapa jam atau hari apabila tidak ada intervensi terapeutik. Perilaku Pasien : perilaku menyerang – teror seperti panik, sangat potensial melakukan bunuh diri atau membunuh orang lain, kegiatan fisik yang merefleksikan isi halusinasi seperti amuk, agitasi, menarik diri, tidak mampu berespon terhadap lebih dari satu orang.

  1. Jenis-jenis halusinasi ( Sunaryo, Psikologi untuk keperawatan, 2004 hal. 95 )

Halusinasi penglihatan (Halusinasi Optik) adalah apa yang dilihat seolah-olah berbentuk orang, binatang, barang, atau benda. Apa yang dilihat seolah-olah tidak berbentuk sinar, kilatan atau pola cahaya. Apa yang dilihat seolah-olah berwarna atau tidak berwarna. Halusinasi akustik (Halusinasi pendengaran) adalah halusinasi yang seolah-olah mendengar suara manusia, suara hewan, suara barang, suara mesin, suara musik, dan suara kejadian alami. Halusinasi olfaktori (halusinasi penciuman) adalah halusinasi yang seolah-olah mencium suatu bau tertentu. Halusinasi gustatorik (halusinasi pengecap) adalah halusinasi yang seolah-olah mengecap suatu zat atau rasa tentang sesuatu yang dimakan. Halusinasi taktil (halusinasi peraba) adalah halusinasi yang seolah-olah merasa diraba-raba, disentuh, dicolek-colek, ditiup, dirambati ulat, dan disinari. Halusinasi kinestetik (halusinasi gerak) adalah halusinasi yang seolah-olah merasa badannya bergerak di sebuah ruang tertentu dan merasa anggota badannya bergerak dengan sendirinya. Halusinasi visceral (cerelitik) adalah halusinasi alat tubuh bagian dalam yang seolah-olah ada perasaan tertentu yang timbul di tubuh bagian dalam (mis. Lambung seperti ditusuk-tusuk jarum ).

  1. Perilaku yang berhubungan dengan halusinasi menurut ( Stuart And Sundeen, 1998 hal 307)

a. Halusinasi pendengaran / auditori

Karakteristiknya : Mendengar suara, paling sering suara orang, suara dapat berkisar dari suara yang sederhana sampai suara yang bicara mengenai klien, untuk menyelesaikan percakapan antara dua orang atau lebih tentang orang yang sedang berhalusinasi. Jenis lain termasuk pikiran yang dapat didengar, yaitu klien mendengar suara orang yang sedang membicarakan apa yang sedang dipikirkan oleh klien dan memerintahkan untuk melakukan sesuatu, kadang-kadang melakukan hal yang berbahaya. Perilaku klien yang teramati : melirikkan mata kekiri dan kekanan seperti mencari siapa atau apa yang sedang berbicara, mendengarkan orang penuh perhatian pada orang lain yang sedang berbicara atau kepada benda mati seperti mebel. Terlihat percakapan dengan benda mati atau seseorang yang tidak tampak, mengerak-gerakkan mulut seperti sedang berbicara atau sedang menjawab suara.

b. Penglihatan visual

Karakteristiknya : Stimulus penglihatan dalam bentuk pancaran cahaya, gambar goemetrik, gambar kartun atau panorama yang luas dan kompleks, penglihatan dapat sesuatu yang menyenangkan atau yang menakutkan seperti monster. Perilaku klien yang teramati : tiba-tiba tampak tergagap, ketakutan atau ditakuti oleh orang lain, benda mati atau stimulus yang tidak terlihat tiba-tiba berlari keruangan lain.

c. Penghidu / olfaktori

Karakterisiknya : Bau busuk, amis dan bau yang menjijikkan seperti darah, urine atau feces kadang-kadang terhidu baru harum, halusinasi penghidu khususnya berhubungan dengan stroke, tumor, kejang, dan demensia. Perilaku klien yang teramati : hidung yang dikerutkan seperti menghidu bau yang tidak enak, menghidu bau tubuh, menghidu bau udara ketika sedang berjalan-jalan kearah orang lain, berespon terhadap dengan panik, seperti bau api atau darah, melempar selimut atau menuang air pada orang lain seakan memadamkan api.

d. Pengecap / gustatori

Karakteristiknya : Merasakan sesuatu yang busuk, amis dan menjijikkan seperti rasa darah, urin, atau feces. Perilaku klien yang teramati : meludahkan makanan atau minuman, menolak untuk makan, atau minum obat, tiba-tiba meninggalkan meja makan.

e. Peraba / taktil

Karakteristiknya : Mengalami rasa sakit atau tidak enak tanpa stimulus yang terlihat, merasakan sensasi listrik datang dari tanah, benda mati atau orang lain. Perilaku klien yang teramati : menampar diri sendiri seakan sedang memadamkan api, melompat-lompat dilantai seperti sedang menghindari nyeri atau stimulus lain pada kaki.

f. Kinestetik

Karakteristiknya : Merasakan fungsi tubuh seperti darah mengalir melalui vena dan arteri, makanan dicerna, atau pembentukan urine. Perilaku klien yang teramati : memverbalisasi dan atau obsesi terhadap proses tubuh, menolak untuk menyelesaikan tugas yang memerlukan bagian tubuh yang diyakini oleh pasien tidak berfungsi.

  1. Mekanisme Koping menurut (Stuart and Sundeen : 1998 : 312)

Perilaku yang mewakili upaya untuk melindungi diri sendiri dari pengalaman yang menakutkan berhubungan dengan respon neurobioligik termasuk :

a. Regresi berhubungan dengan masalah proses informasi dan upaya untuk menanggulangi ansietas, hanya mempunyai sedikit energi yang tertinggal untuk aktivitas hidup sehari – hari.

b. Proyeksi sebagai upaya untuk menjelaskan kerancuan persepsi.

c. Menarik diri.

8. Terapi Aktivitas Kelompok ( TAK ) (Keliat, Budi Anna dan Akemat, 2005)

TAK yang sesuai untuk klien dengan masalah utama perubahan sensori persepsi : halusinasi adalah aktivitas berupa stimulasi dan persepsi. Stimulus yang disediakan, baca artikel/majalah/buku/puisi, menonton acara TV (ini merupakan stimulus yang disediakan), stimulus dari pengalaman masa lalu yang menghasilkan proses persepsi klien yang maladaptif atau distruktif, misalnya kemarahan, kebencian, putus hubungan, pandangan negatif pada orang lain dan halusinasi. Kemudian dilatih persepsi klien terhadap stimulus.

  1. Terapy Psikofarmaka menurut (Mary C. towsend, pasien yang dengan halusinasi pendengaran dengan diagnosa medis Shizoprenia paranoid mendapatkan terapy)

a. Clorpromasin (CPZ)

Mekanisme Kerja : antipsikotik dapat menyekat reseptor dopamin post sinaps pada ganglia basal, hipotalamus, sistem limbik, batang otak dan medula. Indikasi : cegukan yang sulit diatasi, mual, muntah berat. Kontraindikasi : depresi sumsum tulang, kerusakan otak subkortikal, penyakit parkinson, hipotensi/hipertensi berat, gloukoma, diabetes. Efek samping : sakit kepala, pusing, penglihatan kabur dan ruam kulit.

b. Haloperidol (Hp)

Mekanisme kerja : tampaknya menekan susunan saraf pusat pada tingkat subkortikal formasi retikular otak. Diperkirakan menghambat sistem aktifasi retikular asenden batang otak. Indikasi : penanganan gejala dimensia pada lansia, pengendalian TIK dan pengucapan vokal. Kontraindikasi : depresi sumsum tulang, kerusakan otak subkortikal, penyakit parkinson, hipotensi/hipertensi berat. Efek samping : sakit kepala, pusing, penglihatan kabur, mulut kering, mual, muntah dan ruam kulit.

c. Tri Heksipenidil (Thp)

Mekanisme kerja : bekerja, memeriksa ketidakseimbangan defisiensi dopamin dan kelebihan asetilkolin dalam korpus striatum, reseptor, asetilkolin disekat sinaps untuk mengurangi efek kolinergik berlebih. Indikasi : semua bentuk parkinson. Kontraindikasi : hipersensitifitas terhadap obat ini, gloukoma sudut tertutup, hipertropi prostat. Efek samping : mengantuk pusing, penglihatan kabur, kegugupan, ruam kulit, takikardia, mulut kering, mual, muntah, konstipasi, retensi urine.

B. Konsep dasar asuhan keperawatan pada klien dengan perubahan sensori persepsi : halusinasi pendengaran.

1. Pengkajian

Pengkajian merupakan pemikiran dasar dari proses keperawatan yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi tentang klien agar dapat mengidentifikasi kesehatannya, kebutuhan keperawatan serta masalahnya bio, psiko, sosial dan lingkungan yang meliputi :

a. pengumpulan data menurut (Stuart and Sundeen, 1998 hal 305 – 310)

Tujuan dari pengumpulan data untuk menilai keadaan kesehatan serta kemungkinan adanya masalah keperawatan yang memerlukan intervensi keperawatan. Data yang dikumpulkan bisa berupa data objektif dan subjektif yaitu data yang dirasakan oleh klien, keluarga, dan hanya dia yang merasakannya.

b. Identitas klien

Identitas klien meliputi : nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, agama, pekerjaan, alamat, No. RM, ruang rawat, tanggal pengkajian, tanggal masuk RS, diagnosa medis.

c. Faktor predisposisi

Faktor predisposisi yang mungkin mengakibatkan adalah aspek biologis, psikologis dan sosial.

1) Bagaimana hubungan interpersonal dengan orang lain.

2) Faktor sosial budaya, pola budaya, tempat tinggal klien, yang membuat perasaan seseorang disingkirkan atau kesepian.

3) Faktor psikologis, hubungan interpersonal yang tidak harmonis, peran ganda atau peran yang bertentangan.

4) Faktor biologis, ditemukannya atropik otak, pembesaran, vertikal, perubahan besar dan bentuk sel kortikal dan limbik.

5) Faktor genetik, gangguan orientasi realitas umumnya diteruskan pada pasien skizoprenia, ditemukan kembar monozigot pada perkembangan skizofrenia.

d. Faktor Presipitasi (Stuart and Sundeen, 1998)

Faktor presipitasi dapat bersumber internal atau eksternal

1) Stress sosial budaya

Stress dan kecemasan perpisahan dengan orang yang penting atau diasingkan dari kelompok.

2) Faktor Biokimia

Gangguan pada dopamine, noreprinetrin, indolarin, zat halusinogenik.

3) Faktor Psikologis

Intensitas kecemasan terbatasnya kemampuan mengatasi masalah. Pasien mengembangkan koping untuk menghindari kenyataan yang tidak menyenangkan.

e. Sumber-sumber koping ( Stuart and sundeen, 1998 hal. 312 )

Sumber koping individual : modal intelegensia atau kreativitas yang tinggi, sumber keluarga : pengetahuan yang cukup tentang penyakit, finansial yang cukup, ketersediaan waktu dan tenaga, dan kemampuan untuk memberikan dukungan secara berkesinambungan.

f. Mekanisme koping ( Stuart and Sundeen, 1998 hal. 312 )

Perilaku yang mewakili upaya untuk melindungi diri sendiri dari pengalaman yang menakutkan berhubungan dengan respons neurobiologik termasuk :

a) Regresi berhubungan dengan masalah proses informasi dan upaya untuk menanggulangi ansietas, hanya mempunyai sedikit energi yang tertinggal untuk aktivitas hidup sehari-hari.

b) Proyeksi sebagai upaya untuk menjelaskan kerancuan persepsi.

c) Menarik diri

g. Tanda dan gejala ( Mary C. Townsend alih bahasa Novy Helena C. Daulima,1998 hal. 156 )

1) Berbicara dan tertawa sendiri

2) Bersikap seperti mendengarkan sesuatu

3) Berhenti berbicara ditengah-tengah kalimat untuk mendengarkan sesuatu

4) Disorientasi

5) Konsentrasi rendah

6) Pikiran cepat berubah

7) Kekacauan alur fikir

2. Daftar Masalah Keperawatan

Dari pengkajian dapat disimpulkan masalah keperawatan yang ditemukan pada klien dengan masalah utama perubahan sensori persepsi : halusinasi yaitu :

a. Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan.

b. Perubahan sensori persepsi : halusinasi pendengaran.

c. Isolasi sosial : menarik diri.

d. Gangguan konsep diri : harga diri rendah.

e. Berduka disfungsional.

3. Pohon Masalah (Keliat, Budi Anna dkk, 1997 : 27)

Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan

Perubahan sensori persepsi : halusinasi pendengaran




Isolasi sosial : menarik diri

4. Diagnosa Keperawatan

a. Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan Perubahan sensori persepsi : halusinasi pendengaran.

b. Perubahan sensori persepsi : halusinasi pendengaran berhubungan dengan isolasi sosial : menarik diri.

c. Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah.

5. Prinsip Intervensi dan Rasional (Stuart and Sundeen, 1998 hal. 327)

a. Observasi pasien dari tanda-tanda halusinasi (sikap seperti mendengarkan sesuatu, bicara atau tertawa sendiri, terdiam ditengah-tengah pembicaraan).

Rasional : Intervensi awal akan mencegah respon agresif yang diperintah dari halusinasinya.

b. Hindari menyentuh pasien sebelum anda mengisyaratkan kepadanya bahwa anda juga tidak ada apa-apa bila diperlakukan seperti itu.

Rasional : Pasien dapat saja mengerti sentuhan sebagai suatu ancaman dan berespons dengan cara yang agresif.

c. Sikap menerima akan mendorong pasien untuk menceritakan isi halusinasinya dengan anda.

Rasional : Hal ini penting untuk mencegah kemungkinan terjadinya cedera terhadap pasien atau orang lain karena adanya perintah dari halusinasi.

d. Jangan dukung halusinasi. Gunakan kata-kata “suara tersebut” dari pada kata-kata “mereka” yang secara tidak langsung akan memvalidasi hal tersebut. Biarkan pasien tahu bahwa Anda tidak sedang membalikan persepsi Anda. Katakan “Meskipun saya menyadari bahwa suara-suara tersebut nyata untuk Anda Saya sendiri tidak mendengar suara-suara yang berbicara apapun”.

Rasional : Perawat harus jujur kepada pasien sehingga pasien menyadari bahwa halusinasi tersebut adalah tidak nyata.

e. Coba untuk menghubungkan waktu terjadinya halusinasi dengan waktu meningkatnya ansietas. Bantu pasien untuk mengerti hubungan ini.

Rasional : Jika pasien dapat belajar untuk menghentikan peningkatan ansietas, halusinasi dapat dicegah.

f. Coba untuk mengalihkan pasien dari halusinasinya.

Rasional : Keterlibatan pasien dalam kegiatan-kegiatan interpersonal dan jelaskan tentang situasi kegiatan tersebut, hal ini akan menolong pasien untuk kembali kepada ralita.

6. Evaluasi

Untuk mengevaluasi intervensi keperawatan pada pasien dengan respon neurobiologik yang maladaptif, perlu mengajukan pertanyaan berikut ini :

a. Apakah pasien mampu menguraikan perilaku yang menunjukkan bahwa ia akan kambuh?

b. Apakah pasien mampu mengidentifikasi dan menguraikan pengobatan yang diberikan, alasan minum obat, frekuensi dan efek samping yang mungkin terjadi.

c. Apakah pasien berperan serta dalam berhubungan dengan orang lain yang dapat membuatnya merasa senang.

d. Apakah keluarga pasien menyadari karakteristik penyakit dan mampu berperan serta dalam suatu hubungan yang mendukung pasien.

e. Apakah pasien dan keluarga telah diberitahu tentang sumber yang tersedia di komunitas seperti program rehabilitasi, pemberi pelayanan kesehatan jiwa, program penyuluhan dan kelompok pendukung, serta apakah mereka menggunakan sumber tersebut?


DAFTAR PUSTAKA

Ann, Isaacs. (2005). Keperawatan kesehatan jiwa & Psikiatrik. Edisi 3. jakarta : EGC

Carpenito, Lynda Juall. (2001). Buku Saku Keperawatan. Edisi 8, Jakarta : EGC

Keliat, Budi Anna. (1998). Asuhan klien Gangguan Orientasi Realitas. Jakarta : FIK UI

Keliat, Budi Anna (2005) Keperawatan Jiwa Terapi Aktifitas Kelompok. Jakarta : EGC

Sunaryo. (2004). Psikologi Untuk Keperawatan. Jakarta : EGC

Stuart, GW. Sandra S. sundeen. (1998). Buku saku keperawatan jiwa. Edisi 3. alih Bahasa : Achir Yani, S. Hamid. Jakarta : EGC

Stuart and Laraia. (1998) Prinsciples and Practice Of Psychiatric Nursing, Sixth Edition, Mosby

Townsend, Mary C. (1998). Diagnostic Keperawatan Pada Keperawatan Psikiatri. Edisi 3. alih Bahasa : Novi Helena. Jakarta : EGC

www.kbigemari.or.id 11 Januari 2001.

http : / www.dnet.net.id / kesehatan / berita sehat detail : dnet.id=2194

f.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar